Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemasaran Online Di Era Covid-19

Internet Marketing (E-Marketing) kini telah memegang peranan penting dalam bidang bisnis. Pemasaran online dianggap sebagai cara yang efektif dan efisien bagi para pelaku bisnis (individu, kelompok dan perusahaan) untuk memasarkan produk atau jasa bisnisnya kepada klien/konsumen/klien dalam jangkauan yang luas tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. 

Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial, platform digital atau startup melalui internet. Selain itu, pemasaran online juga dapat meminimalkan biaya pemasaran, yaitu pemasaran produk atau jasa komersial secara gratis melalui website atau blog tertentu. Namun, di era COVID-19 ini, ada beberapa dampak di sektor pemasaran online. Berikut beberapa dampak pemasaran online di era COVID-19, yaitu:
Internet Marketing (E-Marketing) kini telah memegang peranan penting dalam bidang bisnis

a) Dampak pada Sektor Perilaku Konsumen

Dalam hal ini klien/konsumen/klien telah berubah. Misalnya, bagi konsumen/pelanggan yang sejak awal senang berbelanja di marketplace, namun dengan adanya COVID-19 ini, mereka cenderung memilih belanja online yang dianggap sederhana, aman dan tidak membutuhkan banyak interaksi manusia.

b) Dampak perubahan strategi bisnis (pemasaran dan penjualan) 

Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, masyarakat Indonesia juga semakin melek teknologi, dan adanya COVID-19 saat ini membuat para pelaku usaha mulai melakukan inovasi produk atau jasa komersialnya. Sebagai contoh, para pelaku usaha yang awalnya menjual kebutuhan pokok seperti sayur, daging dan ikan di marketplace telah beralih ke penjualan online untuk mengantarkan sembako ke rumah konsumen/pelanggan.

c) Dampak pada Departemen Sumber Daya Manusia (SDM)

Hampir semua sektor vital suatu negara terdampak akibat COVID-19. Pembatasan Sosial Massal (PSBB) yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia melalui pemeliharaan anggur yang aman telah menyebabkan banyak perusahaan atau kantor mewajibkan karyawannya untuk bekerja dari rumah (work from home) untuk meminimalkan kontak dengan banyak orang.

d) Dampak pada sektor keuangan


Dampak COVID-19 tidak hanya mengguncang perekonomian negara, tetapi juga bisnis atau penyedia layanan. Dampak nyata yang dirasakan oleh para pelaku usaha adalah berkurangnya aktivitas jual beli, dimana himbauan social distancing telah mewujudkannya. Misalnya, agar pengusaha warteg tetap berjalan, mereka mengubah strategi penjualan dengan menawarkan pembelian dibawa pulang daripada makan di tempat, dan juga bermitra dengan startup ojek online untuk mempromosikan dan Mengirim pesanan.

Dampak nyata lainnya adalah sulitnya bahan baku akibat terganggunya kegiatan produksi, dengan banyaknya perusahaan yang memilih kebijakan work from home, atau merumahkan karyawan karena PHK massal. Selain itu, dampak terhadap penyedia jasa (pekerja lepas, buruh bangunan, wedding organizer) juga sudah terasa, seperti banyaknya proyek yang tertunda sehingga kehilangan pendapatan.